Oleh Is Mujiarso
23 April 2008
Bila di berbagai media massa Susi Pudjiastuti selalu mengungkapkan bahwa dirinya tidak cocok dengan sistem pendidikan sekolahan yang dinilainya terlalu lambat berpikir, maka begitulah sosok ibu tiga anak dan nenek satu cucu ini. Geraknya cekatan, menyelesaikan setiap hal dengan cepat dan tak bisa duduk diam sebentar saja tanpa melakukan apapun. Detik ini ia memesan teh panas pada pegawai di dapurnya, detik berikutnya ia sudah tak ada di tempatnya semula.
Kesigapannya itu pula yang ditunjukkan ketika tsunami menerjang Aceh pada 2004 lalu. Media-media asing menyoroti kiprahnya sebagai salah satu pihak di luar pemerintah yang paling cepat berada di lokasi bencana. Dengan Cessna Caravan Turboprop-nya ia mendarat di Meulaboh membawa obat-obatan. Ia rela menghentikan bisnisnya sejenak, meninggalkan kesibukan hilir-mudik Pangandaran-Jakarta dan Singapura mengirim lobster hidup, menunda ekspor udang olahannya ke Hongkong dan Tokyo, untuk mondar-mandir setiap hari Medan-Meulaboh. Ia juga bermurah hati mengantarkan rombongan ibu-ibu pejabat dari Jakarta dengan pesawat pribadinya untuk mengunjungi Pulau Semeuleu pasca-tsunami
Kehidupan sosial berjalan beriringan dengan aktivitas bisnis, dan Susi memegang prinsip untuk tidak serakah. Dalam pembuatan fillet ikan kakap misalnya, sisa daging ikan yang telah diambilnya, berupa kepala (yang juga masih banyak dagingnya) ia jual lagi kepada penduduk setempat dengan harga yang sangat murah. Padahal, ia bisa saja menjualnya ke restauran di Jakarta dengan harga 10 kali lipat. Nilai-nilai yang sama ia tanamkan pula kepada para nelayan yang menjual hasil laut mereka. "Saya tak bosan-bosan mengimbau mereka agar jangan serakah. Ambil udang dan ikan yang sudah besar saja. Jangan pakai jaring yang lembut, biar ikan-ikan dan udang kecil tidak ikut terangkut."
Sebagai seorang pecinta lingkungan sejak awalnya, Susi memang banyak memendam keprihatinan seputar praktik-praktik di dunia penangkapan hasil laut. Sistem tambak misalnya, yang merusak ekosistem laut. Belum lagi kebijakan pemerintah yang salah kaprah soal subsidi bahan bakar untuk nelayan. "Sejak dulu saya sudah teriak-teriak, subsidi hanya menguntungkan pedagang, memicu penyelundupan oleh pengusaha nakal sehingga menimbulkan kelangkaan dan justru menguntungkan nelayan asing yang melakukan praktik penangkapan ikan ilegal. Bayangkan, kita mensubsidi perampok."
Obrolan kembali terhenti oleh kehadiran cucu Susi yang baru berusia 3 tahun. Ia tampak sedang tidak sehat. Susi merengkuhnya dan memangkunya. Sore semakin tua. Susi memandang pohon-pohon anggrek koleksinya yang belum berbunga. Lalu ia kembali berbicara pada tamu dari Yogya tadi. "Nginep kan? Nginep aja sudah malam, nggak ada lagi bis ke Yogya." Tanpa meminta persetujuan dari yang bersangkutan, Susi berteriak ke salah seorang karyawannya untuk memesankan kamar hotel bagi sang tamu. "Nanti habis makan malam biar diantar ke hotel," kata dia lagi.
Ketika ditanya apalagi cita-citanya setelah memiliki perusahaan hasil laut dan penyewaan pesawat, Susi mengatakan, ia menginginkan suatu saat nanti orang bisa bepergian dari kota ke kota lain di Indonesia dengan pesawat. Sekian persen dari keinginan itu, sudah dia wujudkan sendiri.
niriah.com
Sosok sebelumnya