SOSOK

Batik Mengantar Hantiar dan Waru ke Paris

Oleh ISM
17 Juli 2008

Siapa sangka, berkat batik, Hantiar sekeluarga bisa jalan-jalan ke Paris, Perancis. Tapi begitulah kenyataannya, Mei 2008 berbekal batik Hantiar, Waru istrinya dan Aisyah anak sematang wayangnya, menyaksikan indahnya pemandangan kota romantis itu dari lantai dua menara Eiffel.

Pengalamannya tersebut kerap diceritakan Hantiar, atau lengkapnya Abdul Rahman Hantiar, pemilik dan pemimpin PT. Wahana Cipta Adhikarya (PT. WCA) Group Company, yang bergerak di bidang bisnis garmen dan kriya dari batik, kepada teman-temannya. Bahkan di blog pribadinya Hantiar menuliskan kisah itu secara berseri. Bukan untuk menyombongkan diri. Ia hanya ingin menceritakan manisnya buah dari berbisnis.

"Road to Paris", begitu kata Hantiar, adalah cerita panjang tentang pengalamannya sekeluarga, yang berhasil mendapat kesempatan menembus benua, menjajagi negeri orang nun jauh disana yang sebelumnya hanya sebuah rangkaian mimpi-mimpi. Seperti ditulis dalam blog pribadinya, mimpi-mimpi itulah yang memotivasi Hantiar dan istrinya bisa hidup dan berjuang menggapai bintang-bintang di langit.

Pertemuannya dengan Effendi Arizal, Dubes RI untuk Perancis dan Kepangeranan Andorra dalam PPI (Pameran Produksi Indonesia) pada Agustus 2006 mengawali maujudnya mimpi itu. "Beliau bercerita kepada saya bahwa saat ini KBRI Perancis sedang concern untuk membantu UKM yang ingin mengembangkan jaringan pasarnya ke Perancis dan Eropa," ujarnya. Tanpa berpikir, ia langsung bilang, "Siap pak, saya salah satu UKM yang ingin ikut pameran disana".

Akhir 2007, kabar yang ditunggu pun datang. Ia menerima surat resmi dari KBRI berupa undangan untuk berpameran di Paris.

Hantiar dan Waru sukacita. "Sekarang tinggal mengatur cara supaya kami bisa berangkat, mengingat biaya dan effort yang dibutuhkan tidak kecil," ujar Hantiar.

"Tawakkal dan ihtiar adalah kunci utama. Semua pasrah diserahkan kepada Allah SWT setelah ikhtiar sampe ubun-ubun dan berdoa sampai mengalir air mata," tambahnya.

Yang kemudian terjadi adalah skenario Allah. "Alhamdulillah saya dan istri mendapatkan sponsor untuk berangkat mengikuti undangan Pameran Festival Indonesia di Paris," ujarnya.
Perjalanan selama 28 jam dengan Emirates Air tak membuatnya penat. Ia menikmati betul perjalanan pertamanya ke Eropa ini. "Mendarat di Bandara Charles De Gaulle Paris, menjadi puncak keindahan yang bisa membunuh lelah kami sejenak. Semua pemandangan tampak baru, bangunan bandaranya, cuacanya, orang-orangnya," ujar Hantiar.

Selama di Perancis, ia dan keluarga menginap di rumah Des Alwi, pejabat nomor tiga di KBRI setelah Dubes dan Wakil Dubes. Selain tuan rumah yang baik, Des Alwi juga memberikan banyak informasi penting tentang pasar Perancis dan Eropa, tentang potensi produk-produk Indonesia disana. "Dan yang paling penting Pak Des sudah menyatakan komitmennya untuk membantu pengusaha-pengusaha Indonesia yang ingin mengembangkan pasar di sana," ujarnya.

Bagi Hantiar Des Alwi adalah sosok pejabat yang baik dan hebat. "Beliau sangat low profile dan bersedia mendengarkan segala keluhan dan mencarikan solusi bagi masalah-masalah yang dialami oleh pengusaha kita."


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Sosok sebelumnya