Oleh Is Mujiarso
09 April 2008
Para entrepreneur muda umumnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, semangat yang besar dan yang paling menarik, mereka sangat "enteng" memandang dunia usaha. Tanyakan kepada mereka soal modal misalnya, pasti jawaban rata-rata adalah modal itu nomor sekian. Begitulah, bertemu dengan Mada Azhari, pendiri, pemilik dan pemimpin sejumlah usaha, dan berbincang tentang bisnis dengannya, rasanya memang tidak ada alasan bagi anak-anak muda sekarang untuk "takut" menjadi entrepreneur.
"Kalau saya ditanya modal, saya selalu bilang sama teman-teman, ya diri kita ini modal," kata dia dalam berbincangan dengan Niriah.com di sebuah kafe di Plaza Semanggi. Sambil menyeruput kopi, dia menebak lagu yang sedang mengalun di ruangan dan sepanjang obrolan, banyak kosa-kata dari bahasa anak muda sekarang yang meluncur mulus dari bibirnya. Seolah menunjukkan bahwa dia bagian dari generasi baru enterprenuer Indonesia: muda, gaul, dinamis, santai dan optimis.
"Modal itu ya apa yang ada di diri kita," dia mengulang. Tangan kita ini modal, teman-teman yang kita punya, itu juga modal. Tinggal kita tambah dengan inovasi agar kita punya perbedaan. Kalau pun tidak ada, kita carilah di antara yang sama itu apa yang masih bisa dijual. Ibaratnya, di antara banyak kafe, ada yang bedanya cuma musiknya lebih enak, tapi ada (perbedaan)," papar dia.
Bagi Mada, segalanya cukup jelas, dan sederhana. "Berbisnis itu kalau saya bilang, simpelnya kayak masuk kamar mandi atau belajar berenang. Yang penting masuk dulu aja, nyebur dulu. Kalau kita bisa teori gaya ini gaya itu tapi nggak pernah nyebut ya nggak bakal bisa. Atau kayak orang mau mandi, apa perlu berpikir persiapan macem-macem? Yang penting masuk dulu, kalau ternyata nggak ada air ya minta tolong orang di luar untuk nyalain. Kalau lupa handuk, minta tolong orang lain ngambilin."
Lebih jauh, Mada berkisah tentang perjalanannya merintis bisnis. "Saya mulai bisnis ini modalnya sisa-sisa kekuatan saya setelah bangkrut," kenang dia. Tidak tanggung-tanggung, dia bangkrut dua kali. Pertama, ketika melanjutkan usaha percetakan orangtuanya, dan kedua ketika mendirikan Majalah Entrepreneur Indonesia. Pada 2004 dia mendirikan PT Media Citra yang bergerak dalam industri jasa pelayanan media intern.
Lahir di Jakarta, 10 November 1980, latar belakang pendidikan Mada sebenarnya tidak berkaitan dengan media. Namun, alumnus IPB ini sejak dulu memang memiliki ketertarikan yang besar dengan bisnis media. "Mimpi saya sejak kuliah dulu ingin punua perusahaan media. Saya suka ngumpulin komik, majalah komik, juga majalah bisnis dan lain-lain, ternyata saya senang informasilah," dia mengenang lagi.
Usaha pertamanya untuk mewujudkan mimpi memiliki media sendiri, lewat Majalah Entrepreneur Indonesia, kandas karena nama tersebut ternyata sudah dimiliki oleh sebuah badan usaha di luar negeri. Sekarang, lewat Media Citra, dia mengerjakan majalah intern perusahaan dan memiliki 7 karyawan tetap. "Ditambah dengan tenaga lepas, total ada 15-20 orang," tambah dia. Sebagai pemimpin bisnis, Mada sendiri jarang berada di kantor. "Sibuk beredar," kata dia.
Sosok sebelumnya