Oleh Is Mujiarso
21 September 2007
Bicara tentang pesatnya perkembangan bisnis telekomunikasi selular di Tanah Air sekarang ini, tentu mau tidak mau juga akan menyempet ke perbincangan mengenai industri infrastruktur pendukungnya, yakni penyewaan menara untuk penempatan base transciever station (BTS). Dan, bicara tentang bisnis penyewaan menara BTS, maka itu sama artinya dengan mengarahkan perhatian pada sosok bernama Sakti Wahyu Trenggono yang dengan ketajaman naluri bisnisnya telah memulai bisnis ini pada awal dekade 2000-an.
Layaknya para pebisnis sukses yang selalu mampu melihat apa yang belum dilihat orang lain, Sakti mengendus adanya peluang di balik lajunya bisnis telekomunikasi selular sejak pemerintah mengakhiri monopoli Telekom dan Indosat sehingga bermunculan operator-operator telepon baru. "Kalau semua operator itu mendirikan menara, lihat saja misalnya di kawasan Puncak itu jadi semerawut," ujar Pak Treng, panggilan akrab Presiden Direktur PT Solusindo Kreasi Pratama, perusahaan yang didirikannya untuk memfasilitasi ide bisnis penyewaan menara BTS tadi.
Menghindari polusi pemandangan, katakanlah begitu, hanyalah satu alasan. Alasan lain, lebih ditujukan kepada perusahaan operator selular itu sendiri agar lebih efisien. Begitulah, dengan menggunakan merk Indonesian Tower, Trenggono akhirnya memulai bisnis baru di Indonesia tersebut. Awalnya tentu tak mudah menawarkan jasanya itu kepada perusahaan-perusahaan operator selular yang kala itu masih berpikir bahwa membangun menara sendiri banyak-banyak akan semakin memperluas jangkauan. Trenggono datang dengan penjelasan bahwa persaingan ke depan bukan pada luas jangkauan melainkan pada biaya (yang murah) dan layanan konten (yang lengkap).
Sekarang, Trenggono sudah bisa melihat hasil rintisannya itu. Selain kini telah menjadi bisnis yang menggiurkan bagi investor, "Operator-operator juga mulai berlomba-lomba memangkas biaya dengan menjual menara yang sudah mereka dirikan sendiri. Untuk pengembangan selanjutnya mereka sewa semua, dan operator-operator yang baru muncul sama sekali nggak ada yang membangun menara sendiri."
"Sekarang sudah ada 30-an perusahaan lokal dan asing yang menjadi kompetitor Indonesia Tower," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspintel) tersebut. Dan, itu membuat Trenggono terus mempertahankan kompetensi pelayanan yang sejak awal dibangunnya. "Di sini kita harus mampu dan memiliki kemampuan planning, dan balik lagi visinya apa? Pedagang tahu pun pasti jadi pedagang yang unggul dari yang lain. Jadi, kuncinya kita harus menciptakan nilai kompetensinya," tambah dia.
Trenggono tahu benar bahwa "menyewakan" saja tidak cukup, dan tidak memberi "nilai tambah" yang penting bagi perusahaan penyewa. "Visi kita jadi mitra strategis. Kita harus paham kebutuhan dan keinginan customer, kalau perlu kita educate mereka. Kita ingin, operator melihat kita begini. Misalnya, mereka ingin membangun di Papua, maka kita jawab, jangan deh mendingan nggak usah di sana potensinya kecil. Dengan kata lain, kita sudah langsung bisa kasih solusi. Nah, (kompetensi) itu kita miliki, kita develop sejak awal," terang dia.
***
Sosok sebelumnya