Oleh ISM
06 September 2007
M. Zainal Muttaqin adalah sosok dengan beragam warna dan talenta. Ia aktivis, motivator, trainer, penulis, jurnalis, konsultan keluarga, pebisnis sekaligus ustadz. Karenanya, agak susah untuk menempatkannya dalam satu "kotak" tertentu.
Tapi, pada dasarnya ustadz Zainal, begitu ia biasa dipanggil, sepertinya tak begitu senang untuk masuk ke dalam kotak-kotak itu. Ia memilih "merdeka". Itu sejalan dengan visi hidupnya: ingin melakukan banyak hal bermanfaat bagi banyak orang!
Mengenai ekonomi syariah, mantan Pimpinan Redaksi Majalah Sabili ini (non-aktif 2001, red), yang ditemui Niriah.com di kantornya yang teduh di bilangan Jatinegara, Jakarta ini punya pengalaman menarik.
"Sesuatu yang berbau ekonomi syariah biasanya kurang mendapat sambutan. Majalah kami returnya banyak kalau cover story-nya mengenai ekonomi syariah, zakat dan sejenisnya. Saya belum mendapatkan jawaban mengapa demikian," begitu kata pria kelahiran Agustus 1963, yang kini Direktur lembaga pelatihan dan konsultasi manajemen Reksa Leadership Centre.
Padahal, jelasnya, pengetahuan dan penguasaan tentang ekonomi adalah hal yang sangat penting. "Salah satu hal yang membuat ummat rusak adalah karena kita tidak menguasai ekonomi. Pendidikan dakwah kita minus ekonomi. Pendidikan iman dan Islam bagus, tapi ihsannya kurang. Padahal ihsan itu implementasi dari iman dan Islam. Alhasil, orang yang paham agama, ketika berbisnis perilakuknya sama saja dengan orang yang tidak beragama, suka menyuap, tidak jujur," tegasnya panjang lebar.
Ia mengingatkan betapa Islam dulu berjaya di dunia karena pengusaha, pedagang dan saudagarnya menguasai bisnis. "Bukankah Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para saudagar dari Gujarat?"
Menguasai bisnis, bagi ustadz Zainal, adalah power. Ia meyakini bila seseorang memiliki power, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Ia lantas mencontohkan seorang temannya. Cukup dengan satu kalimat ia bisa membuat para pekerjanya, yang perokok tulen, berhenti merokok. "Kalau kamu merokok berhenti kerja disini!" begitu ucapnya menirukan sang teman.
Menurutnya, di sekitar kita banyak contoh lain yang serupa itu. Seperti beberapa kali diberitakan di media massa, perempuan baik-baik terpaksa membuka jilbab di tempat kerjanya hanya karena ia membutuhkan pekerjaan.
Tak heran jika dalam berbagai kesempatan ia kerap mengompori orang untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. "Kecil-kecilan juga kalau jadi kepala jauh lebih enak ketimbang besar tapi cuma ekor," begitu selorohnya.
Dan itu tak cuma "teori". Di alam nyata, ia melahirkan ide cemerlang untuk memberdayakan usahawan kecil melalui lembaga keuangan mikro yang dikenal sebagai BMT (Baitul Maal wat Tamwil). Bersama seorang sahabatnya, Dindin Sjafrudin, ia mendirikan BMT Bina Insan Kamil (BIK) di Jakarta pada awal 1992. BIK adalah cikal bakal BMT di Indonesia.
Tidak berhenti sampai disitu, pada 1994, bersama Aries Mufti dan M. Syafii Antonio, ia juga mendirikan sekaligus menjadi Direktur Eksekutif P3UK (Pusat Pengkajian dan Pengembangan Usaha Kecil), lembaga yang menangani sosialisasi dan pelatihan pengelolaan BMT.
BMT yang digagasnya itu, katanya, terinspirasi oleh Grameen Bank yang didirkan Muhammad Yunus di Bangladesh. "Bedanya jika Grameen Bank menerapkan bunga, BMT tidak," ujarnya.
Hal lain yang membedakannya dengan lembaga keuangan berbasis riba, BMT tidak mensyaratkan agunan sebagai jaminan. Dengan model seperti itu, lembaga keuangan yang operasionalnya mengacu pada prinsip-prinsip syariah ini sukses membuka akses pembiayaan kepada pengusaha mikro yang tak terjangkau perbankan konvensional.
"Dulu saya dianggap gila oleh teman-teman, karena menurut mereka tidak mungkin simpan pinjam tanpa memakai agunan bisa jalan. Tanpa bunga pula," katanya.
Kini terbukti ide gilanya itu bekerja. Menurut data asosiasi BMT se-Indonesia (Absindo), saat ini diperkirakan ada 4000 BMT dengan total aset Rp 3 triliun di seluruh Indonesia.
niriah.com
Sosok sebelumnya