Oleh BHS
31 Juli 2007
Indonesia punya ribuan atau mungkin jutaan ulama. Namun tak banyak kyai yang menekuni bidang ekonomi syariah. KH Didin Hafidhuddin adalah salah satu kyai yang mengambil bidang langka itu.
"Ekonomi syariah punya potensi yang luar biasa. Sayang belum banyak umat yang mengetahuinya," kata profesor ekonomi syariah dari Institut Pertanian Bogor kepada Niriah.com.
Perkenalannya dengan bidang ini mulai intens sejak 2001. Saat itu pengasuh Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor itu mulai bergabung dengan Dompet Dhuafa Republika. Dia saban Jumat juga mengasuh rubrik konsultasi Zakat, Infak dan Shodaqoh di koran Republika.
Dari sinilah Kyai Didin semakin kerap bersinggungan dengan bidang ekonomi syariah. Ustadz yang juga sarjana dan doktor dari Universtas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta itu mulai melihat bahwa ketimpangan ekonomi akibat sistem kapitalisme meruyak di mana-mana. Itu yang membuatnya makin tekun mempelajari ekonomi syariah.
Ustadz Didin yang mulanya dosen agama IPB itu melanjutkan program master di IPB dan doktor di UIN dengan spesialisasi ekonomi syariah. Dia juga aktif di Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
"Ekonomi kapitalisme terbukti gagal menyejahterakan umat," kata Direktur Syariah Economic and Banking Institute itu.
Dalam orasi ilmiah saat pengukuhan gelar guru besarnya pada Juni 2007, dia menunjukkan hasil riset tentang kegagalan ekonomi riba yang kini diterapkan dunia. Mengutip hasil penelitian New Economic Forum dari Inggris, Ustadz Didin mengatakan bahwa dari tahun 1994 hingga 2000 ekonomi riba hanya bisa menyejahterakan 0,6 persen kaum dhuafa. Sistem itu hanya membuat yang kaya makin tajir atau 99,6 persen menyejahterakan orang kaya. Inilah yang membuat sedih Kyai Didin.
"Saatnya berpaling ke ekonomi syariah, selain karena diridloi Allah juga karena terbukti bisa menyejahterakan kaum dhuafa," katanya.
Itulah sebabnya kini penulis 19 buku itu tak berhenti berjuang memasyarakatkan ekonomi syariah. Obsesi kyai asal Sukabumi yang pernah mengenyam pendidikan Universitas Madinah ini adalah melahirkan bank
syariah khusus bergerak bidang pertanian. Mengapa bank syariah pertanian?
"Karena 47 persen angkatan kerja di Indonesia adalah petani. Dengan bank syariah pertanian mereka akan terbantu," kata dosen pengajar ekonomi syariah IPB itu. Selain itu petani sebenarnya sudah terbiasa
dengan sistem syariah. Ia menunjukkan contoh; model maro yang biasa diterapkan petani. "Itu kan sistem musyarokah," sambung bapak lima anak itu.
Ia khawatir tanpa bank syariah khusus pertanian nasib petani akan makin terpuruk, karena bank konvensional cenderung mengejar untung dalam waktu singkat seperti bisnis retail. Dalam pertanian, menurut dia, butuh bank yang mau berinvestasi jangka panjang.
Semoga saja cita-citanya segera terwujud.
niriah.com
Sosok sebelumnya