Oleh Agustianto
31 Juli 2008
Pada tanggal 1- 3 Agutus 2008 ini diadakan sebuah perhelatan akbar para ahli ekonomi Islam Indonesia dan dunia di Surabaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Program Doktor Ekonomi Islam Universitas Airlangga Surabaya. Kegiatan Seminar dan symposium ini merupakan agenda tahunan Ikatan Ahli Ekonomi Islam yang bertujuan untuk membahas dan membicarakan perkembangan ekonomi ekonomi Islam kontemporer di panggung international dan national, peluang, tantangan, dan kendala pengembangan ekonomi Islam baik dalam skala nasional maupun internasional dalam rangka penyusunan implementasi strategi ke depan.
Selain tujuan tersebut, kegiatan simposium ini juga bertujuan untuk mengembangkan ilmu ekonomi Islam secara positif dan empiris dalam rangka implementasi kontemporer dan memberikan solusi ekonomi bagi tata ekonomi dunia demi terbangunnya tatanan ekonomi dunia yang adil dan sejahtera.
Menurut catatan historis, dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, ekonomi dunia tidak pernah sepi dari badai krisis. Roy Davies dan Glyn Davies dalam buku "A History of Money from Ancient Time to the Present Day" (1996), menulis dan menyimpulkan, Sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis. Kesemuanya merupakan krisis sektor keuangan.
Kesenjangan ekonomi juga semakin tajam, kemiskinan dan pengangguran yang semakin menggurita. Pendeknya, kemakmuran dan kesejahteraan berlangsung secara tidak adil. Di bawah dominasi kapitalisme, kerusakan ekonomi terjadi di mana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, perekonomian dunia tengah memasuki suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa depan yang sama sekali tidak menentu. Setelah mengalami masa sulit karena tingginya tingkat inflasi, ekonomi dunia kembali mengalami resesi yang mendalam, tingkat pengangguran yang parah, serta fluktuasi nilai tukar yang tidak sehat. Tidak terhitung banyaknya para pakar ekonomi Barat yang mengkritik sistem ekonomi kapitalisme dan mendesak dilakukannya perubahan paradigma ke arah paradigma yang adil dan manusiawi.
Sebenarnya, sejak awal tahun 1940-an, para ahli ekonomi Barat, telah menyadari indikasi kegagalan tersebut. Adalah Joseph Schumpeter dengan bukunya Capitalism, Socialism and Democracy menyebutkan bahwa teori ekonomi modern telah memasuki masa-masa krisis. Pandangan yang sama dikemukakan juga oleh ekonom generasi 1950-an dan 60-an, seperti Daniel Bell dan Irving Kristol dalam buku The Cricis in Economic Theory. Demikian pula Gunnar Myrdal dalam buku Institusional Economics, Journal of Economic Issues, juga Hla Mynt, dalam buku Economic Theory and the Underdeveloped Countries serta Mahbubul Haq dalam buku The Poverty Curtain: Choices for the Third World.
Dalam konteks ini, Thomas Ulen dalam buku Review of Nelson and Winkers, An Evolutionary Theory of Economic Change in Business History Review, mengatakan, “Banyak pidato tingkat tinggi terkini di lingkungan Assosiasi Ekonomi Amerika yang sangat kritis terhadap teori ekonomi makro dan mikro yang sudah mapan. Meskipun demikian, sampai sekarang belum ada paradigma baru”. Dari teks ini terlihat bahwa Thomas Ulen ingin berubah dan menemukan paradigma baru dalam ekonomi.
Opini sebelumnya