Barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw adalah seorang pebisnis kaya saat usianya belum genap 40 tahun. Pada usia 37, bisnis beliau berada di puncak kejayaannya. Jaringan usahanya meluas seantero jazirah Arab, mulai dari Syam di timur hingga Bahrain di barat, Azerbeijan di utara dan Yaman di Selatan.
Muhammad benar-benar pebisnis tulen yang sukses. Selama 25 tahun menjadi bisnisman --beliau berbisnis sejak usia 12, tidak pernah sekalipun mengalami kerugian. Dengan kata lain, bisnis Muhammad selalu untung.
Muhammad yang yatim sejak kecil memang memiliki keitimewaan. Keistimewaan tersebut terletak pada kemuliaan ahlak dan kejujurannya. Di ranah bisnis yang terkenal dengan tipu muslihatnya Muhammad tampil beda dan terkenal sebagai Al Amin, atau orang yang dapat dipercaya. Sebuah julukan istimewa yang diberikan kepadanya oleh penduduk Mekkah ketika itu.
Dengan integritas pribadi dan reputasinya tersebut, tidaklah mengherankan jika pada usia 17, Abu Thalib, pamannya, yang tak lain adalah mentor bisnisnya memberi kepercayaan besar kepada Muhammad untuk mengawasi seluruh kegiatan bisnisnya. Hingga usia 20 beliau tercatat telah empat kali memimpin perjalanan dagang ke pusat bisnis global ketika itu, Habasyah dan Yaman.
Dalam mengembangkan bisnisnya Muhammad tidak pernah mengalami kesulitan. Berbekal brand "Al Amin", dengan jaminan pasti jujur dan amanah (menepati janji), sangat mudah bagi Muhammad untuk mengembangkan bisnisnya. Khadijah, saudagar besar Arab saat itu, yang kelak menjadi istrinya, mempercayainya sebagai partner bisnis dengan meminjaminya modal untuk diputar.
Kisah tadi dipaparkan dalam buku berjudul "14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW membangun Kerajaan Bisnis". Buku yang ditulis oleh Laode M. Kamaluddin, PhD. alumni Universitas Padjadjaran dan Iowa State University, USA ini menjadi menarik karena dilengkapi catatan spesial antara lain dari pakar manajemen pemasaran Rhenald Kasali dan Direktur Utama Bank Muamalat A. Riawan Amin.
Dalam bukunya, Laode memaparkan dengan gamblang 14 langkah atau lebih tepatnya 14 karakter yang mengantarkan Muhamamad saw sukses membangun bisnisnya. Selain jujur dan amanah yang telah menjadi brand-nya, Laode mengindentifikasi Muhammad adalah seorang yang merdeka, berani, ulet, dan yang terpenting adalah meyakini God factor.
A. Riawan Amin dalam catatan spesialnya lebih jauh menyampaikan, jika ditarik ke masa kini, Muhammad saw boleh dikatakan telah menerapkan apa yang disebut sebagai Celestial Management oleh Peter F Drucker. Yakni, menjadikan bisnis sebagai sarana pengabdian terhadap Sang Maha Kuasa, bisnis sebagai upaya mendapatkan dan mendistribusikan kemakmuran, dan bisnis sebagai upaya pertempuran terhadap ketidakadilan, kezaliman dan eksploitasi.
Dengan membaca rujukan lain, boleh jadi anda dapat menemukan lebih dari 14 karakter yang patut diteladani dari Muhammad Rasulullah saw dalam membangun dan mengembangkan bisnisnya. Namun saripati dari semuanya adalah Muhammad menjalankan bisnisnya dengan kesungguhan dan kejujuran. Dalam pengantar buku ini, pakar manajemen pemasaran dan ahli bedah bisnis Rhenald Kasali dengan tegas mengatakan bahwa bisnis yang kita geluti nicaya juga akan sukses jika kita mau menduplikasi karakter Muhammad saw tersebut dalam berbisnis.
niriah.com
Buku sebelumnya