BERITA > KEUANGAN

Underlying Asset SBSN Baru Terpakai 22,2 Persen

Oleh ISM
26 Agustus 2008

Hari ini pemerintah melakukan lelang perdana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk. Permintaan sukuk perdana ini mencapai Rp 8,07 triliun melebihi target indikatif Rp 5 triliun. Namun pemerintah hanya menerbitkan SBSN sebesar Rp 4,699 triliun.

Untuk seri IFR (Ijarah Fixed Rate) 0001 penawaran yang masuk Rp 4,839 triliun yang dimenangkan Rp 2,714 triliun dengan kupon 11,8 persen jatuh tempo 15 Agustus 2015, IFR0002 penawaran yang masuk Rp 3,231 triliun yang dimenangkan Rp 1,985 triliun, kupon 11,95, jatuh tempo 15 Agustus 2015.

Dengan demikian, dari sekitar Rp18 triliun underlying asset yang digunakan untuk jaminan penerbitan sukuk, pemerintah baru memakai sekitar Rp4 triliun atau 22,2 persen, untuk penerbitan sukuk perdana tahun ini.

"Waktu itu kami menyediakan underlying asset sebesar Rp18 triliun dan baru dipakai untuk saat ini sekitar Rp4 triliun," ucap Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, seusai membuka acara penerbitan atau lelang perdana sukuk negara, di Jakarta, Selasa (26/8/2008).

Dari total underlying asset yang tersisa, kata Menkeu, belum tentu semuanya akan terpakai pada saat penerbitan sukuk berikutnya, termasuk penerbitan sukuk internasional.

"Penggunaannya akan didasarkan kepada kebutuhan anggaran dan suasana pasar. Jadi, tidak ada kira-kira. Nanti kita lihat saja," ujar Menkeu.

Partisipasi bank syariah dalam penyerapan sukuk kali ini relatif kecil, yakni 9,66 persen. Namun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku tidak ada masalah.

"Saya mengatakan ini merupakan prestasi karena ini artinya institusi keuangan syariah masih mau berdedikasi pada instrumen ini," katanya.

niriah.com

Berita Keuangan sebelumnya