BERITA > BISNIS

Berlomba-lomba Memasarkan Dinar

Oleh BHS
06 Juli 2007

Babak baru dalam berinvestasi bakal segera dimulai. Dalam waktu dekat, bank syariah dan asuransi bakal berlomba-lomba memasarkan produk paling gres: dinar.

Ini adalah mata uang dari emas, seperti di zaman Nabi Muhammad SAW. Dinar adalah satu koin emas 22 karat dengan berat 4,25 gram.

Salah satu bank syariah yang paling ngesbet mengeluarkan dinar adalah Bank Syariah Mandiri. "Kami sudah mengantungi izin produk simpanan emas dari Bank Indonesia (BI) bulan ini," ujar Direktur Bank Syariah Mandiri Hanawijaya kepada wartawan.

Persiapan peluncuran dinar itu, kini sedang dikebut Bank Syariah Mandiri. Rencananya, produk simpanan emas 24 karat ini akan diluncurkan pada kuartal ketiga tahun ini, bertepatan dengan momen bulan Ramadhan.

Model simpanan dinar ini adalah Bank Syariah Mandiri akan mengeluarkan sertifikat bagi nasabah pemegang rekening simpanan investasi emas. Sertifikat itu sebagai tanda, bahwa emasnya dititipkan ke Bank Syariah Mandiri atau lembaga yang ditunjuk bank tersebut.

Lahirnya produk simpanan berupa dinar ini adalah jawaban dari tuntutan masyarakat syariah selama ini. Banyak kalangan yang mendesak pemberlakuan mata uang dinar menggantikan mata uang kertas. Dinar, karena terbuat dari emas, nilainya relatif stabil. Dia kebal terhadap inflasi. Ini berbeda dengan mata uang kertas atau logam biasa yang nilainya berubah-ubah setiap saat tergantung inflasi.

Sebagai bukti, menurut Zaim Saidi, direktur Wakala Dinar-Dirham, pada krisis tahun 1997 pendapatan per kapita orang Indonesia turun dari 1.000 dolar AS ke 400 dolar AS per tahun. "Mata uang kertas banyak mudharatnya" kata dia.

Ini berbeda dengan dinar yang nilainya cenderung tetap. "Sejak zaman Rasulullah SAW hingga kini, harga seekor kambing tetap 1-2 dinar," kata Zaim lagi.

Lantaran stabil itulah kini tuntutan pasar terhadap dinar menguat. Dan bank-bank dan asuransi syariah mulai menangkap peluang ini dengan meluncurkan produk dinar. Namun, untuk sementara dinar hanya digunakan sebagai produk investasi dan bukan pengganti mata uang kertas.

Selain karena terbentur soal undang-undang, Bank Indonesia pun belum siap mengganti mata uang kertas dengan dinar. "Dinar masih belum dimungkinkan saat ini menjadi alat transaksi karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah kurangnya cadangan emas di Bank Indonesia (BI)," kata Harisman, Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI. Saat ini, cadangan emas yang tersimpan di BI hanya sekitar 1 persen dari total emas yang dibutuhkan untuk mengganti seluruh mata uang rupiah yang beredar, yakni 1.959 ton emas 22 karat.

Salah satu yang kepincut dinar selain Bank Syariah Mandiri adalah HSBC Amanah Indonesia. HSBC Amanah menargetkan produk simpanan investasi emas HSBC dapat terbit paling lambat pertengahan Juli mendatang.
Saat ini HSBC masih menunggu izin dari Bank Indonesia. Rencananya, produk tersebut akan berupa emas fisik yang disimpan di HSBC Amanah.

Sejumlah asuransi syariah pun ikut melirik produk dinar. Salah satunya adalah, Asuransi Bintang divisi Syariah. Targetnya, Juli ini mereka akan melahirkan produk asuransi kesehatan berbasis dinar emas. Mereka, tutur Direktur Utama Asuransi Umum Bintang Muhaimin Iqbal, juga sudah melaporkan hal ini ke Departemen Keuangan.

Menurut Iqbal, produk asuransi berbasis dinar akan mengatasi masalah yang muncul selama ini. Kata dia, produk asuransi berjangka waktu lima tahun ke atas cenderung merugikan peserta. Padahal, kedua pihak telah melaksanakan kewajibannya, yakni peserta membayar iuran premi dan perusahaan membayar klaim pada akhir perjanjian.

Kerugian itu muncul apalagi kalau bukan gara-gara berkurangnya nilai klaim akibat penggunanaan mata uang rupiah atau dolar AS yang rentan terhadap inflasi.

Iqbal memberikan ilustrasi, seorang bapak membelikan asuransi pendidikan bagi putranya pada 1988 untuk membayar biaya kuliah. Saat itu, nilai klaim yang dijanjikan sebesar Rp 22,5 juta. Ketika kewajiban iuran premi bulanan telah lunas tahun ini, maka bapak tersebut mendapatkan klaim sebesar Rp 22,5 juta seperti yang dijanjikan. Namun, biaya kuliah sudah membengkak dan klaim yang diterima tidak cukup untuk membayar biaya tersebut. ''Bahkan, separuh pun tidak cukup. Kenapa tidak cukup? ternyata karena nilainya tidak tetap,'' katanya.

Inilah yang bisa diatasi dengan dinar. Semoga saja.

niriah.com

Berita Bisnis sebelumnya