Oleh ISM
14 November 2007
Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berbasis komoditas pangan akan mendorong pengembangan pertanian di pedesaan terutama sektor `on farm` yang menjadi sumber bahan bakunya. Pengembangan UKM jenis ini dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat desa.
Demikian disampaikan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Dr Ganjar Kurnia, kepada wartawan di Bandung, Selasa (13/11/2007).
Menurut rektor Ganjar, hingga saat ini perekonomian desa sebagian besar masih bertumpu pada sektor pertanian. Data Biro Pusat Statistik 2006 menunjukkan 60 persen penduduk di pedesaan bekerja pada sektor pertanian. Pertanian juga menyerap 42 persen tenaga kerja di Indonesia.
Sementara itu, UKM dengan sektor usaha pemanfaatan pangan saat ini mencapai 39,7 persen dari total unit-unit UKM yang ada. "Nilai produksi mencapai 439,86 triliun setiap tahun," ujar Ganjar.
Berkaitan dengan pengembangan produk UKM yang berbasis komoditas pangan, menurutnya, terdapat dua isu penting. Yaitu, pengawasan mutu serta perlindungan terhadap hasil produk pangan.
Menurut Ganjar, pengawasan terhadap mutu dengan sertifikasi produk perlu dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan konsumen. Sedangkan perlindungan produk penting agar pihak penggagas serta pengembang produk memiliki hak paten atas barang hasil produksinya.
"Pelaku UKM juga masih dihadapkan pada masalah klasik seperti rendahnya akses terhadap sumber-sumber pembiayaan, regulasi pemerintah, keterbatasan sumber daya, dan teknologi," katanya.
Untuk menggali berbagai permasalahan yang dihadapi UKM, pada 14 hingga 17 Nopember 2007, Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (Hima Sosektan) Unpad, bersama Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (DPP POMASEPI) menggelar sebuah seminar nasional. Seminar bertema "Mengembangkan Agroindustri Kerakyatan Berbasis Komoditas Pangan" tersebut dilangsungkan di Aula Graha Sanusi.
niriah.com
Berita Bisnis sebelumnya